KABUPATEN LAMPUNG SELATAN, JAKARTA – Pernyataan tegas datang dari Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) yang secara terbuka menantang Presiden RI Prabowo Subianto untuk melakukan debat langsung di hadapan ribuan mahasiswa.

Tantangan tersebut disampaikan sebagai bentuk respons atas sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai perlu dijelaskan secara yang dinilai perlu dijelaskan secara terbuka kepada publik, khususnya kalangan akademisi.
Ajakan debat itu disebut sebagai upaya membuka ruang dialog antara mahasiswa dan pemerintah. Ketua Umum (Ketum) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM_UGM) menilai bahwa kampus merupakan ruang intelektual.

Yang tepat untuk menguji gagasan, mempertanyakan kebijakan, serta menyampaikan aspirasi masyarakat luas secara rasional dan argumentatif.
Kendati begitu, ia bahkan menyerukan agar Presiden RI hadir langsung ke kampus dan berdiskusi secara terbuka di hadapan Mahasiswa&Mahasiswi.
Menurutnya, perbedaan pandangan dalam demokrasi adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut seharusnya dijembatani melalui dialog terbuka, bukan hanya melalui pernyataan sepihak.
Tantangan debat ini pun menjadi simbol keberanian ini pun menjadi simbol keberanian mahasiswa dalam menyuarakan kritik terhadap pemerintah.
Langkah tersebut memicu beragam respons di ruang publik. Sebagian pihak memuji keberanian mahasiswa yang dianggap konsisten menjalankan fungsi CONTROL SOSIAL.
Mereka melihat tantangan debat sebagai wujud nyata Demokrasi kampus yang hidup dan Kritis. Namun ada juga yang mempertanyakan efektivitas format debat terbuka antara Mahasiswa dan Kepala Negara, mengingat perbedaan posisi dan tanggung jawab masing-masing pihak.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Istana terkait ajakan debat tersebut. Meski demikian, wacana ini telah menjadi perbincangan luas, terutama di media sosial dan kalangan Civitas Akademika. (Al)














